10 TEKNIK BERMAIN DRUM

Sebenarnya Dalam dunia drumming, ada banyak teknik yang digunakan untuk memainkan instrument Drum Set, namun disini kita hanya akan belajar 10 teknik pentingnya saja dalam bermain drum diantaranya adalah :

  1. Teknik double pedal (double bass) adalah suatu cara memainkan double pedal (pedal ganda) dengan menggunakan kedua kaki untuk menghasilkan beat-beat (pukulan-pukulan) yang cepat dan rapat pada bass drum. Penggunaan double pedal lebih sering digunakan pada musik yang beraliran keras seperti rock dan sejenisnya.Menurut Denny (2003: 1) mengatakan bahwa :Untuk memainkan double pedal sangat diperlukan keseimbangan badan, kekuatan dan kontrol yang baik dari anggota tubuh serta tempo yang konstan. Permainan double pedal tidak dapat dipelajari dengan membaca notasi musik saja, tetapi untuk memainkan double pedal diperlukan suatu teknik yang sulit didapat dengan sendirinya. Jadi sangat diperlukan suatu  kemauan dan usaha yang keras untuk menguasainya.
  1. Teknik Rim-shot adalah teknik pukulan pada snare, tom-tom dan instrumen perkusi lainnya yang berbentuk tabung berkulit, dimana stik dipukulkan mengenai rim dan headnya secara bersamaaan. Menurut Schroedl (2005: 43) mengatakan bahwa :Suara Rim Shot digunakan untuk menciptakan suatu hentakan yang lebih tajam ketika memainkan back beat (hitungan kedua dan keempat) dalam sebuah irama atau aksen sebuah sebual fill. Untuk memainkan rim-shot, pukullah head snare dan rim pada waktu yang bersamaan, dengan stik yang sama.
  1. Teknik Cross-stick adalah suatu teknik memainkan snare drum dengan cara membaringkan stik pemukul diatas dengan tangan kiri, dimana bagian depan stik diangkat dan dihentakkan pada bagian rim. Menurut Schroedl (2005: 43) mengatakan bahwa : Suara Cross-stick (kadang-kadang disebut ‘rim click’ atau ‘side stik’) cukup sering digunakan dalam balada. Selain itu, juga digunakan dalam banyak gaya music lain. Untuk menghasilkan suara cross stick, baringkan stick melintang di atas snare sehingga menempel pada rim dan head snare, lalu angkat dan hentakkan pada rim.

 

  1. Teknik Flame (flam) adalah cara memukul head pada bagian drum set (snar, tom-tom) dengan menggunakan kedua stik, dimana salah satu stik lebih dahulu dipukulkan lalu menyusul stik berikutnya. Pukulan yang kedua lebih keras dari pada pukulan yang pertama. Menurut Bone (2011: 43) mengatakan bahwa : “Flame adalah dua pukulan yang hamper bersamaan suaranya, yaitu not kecil yang dimainkan pukulannya lebih lemah (pelan) dari pada not aslinya yang lebih keras (Jelas)”.

Anugrah dan Hendro (2003: 33) mengatakan bahwa :“Flame adalah teknik bermain dengan melengkapi not kecil (dipukul lebih pelan) di depan not aslinya”.

Schroedl (2005: 44) mengatakan bahwa : Flame adalah sebuah cara untuk membuat drum terdengar lebih nyaring dan mantap. Flam terdiri dari not hiasan dan not utama. Not hiasan dimainkan lebih lembut, tepat sebelum not utama. Mulailah dengan memegang stik kirimu sekitar 8 cm diatas head, sementara stik kananmu sekitar 25 cm diatas head. Ketika kamu mengarahkan kedua stikmu menuju head, gerakkan stik kiri untuk melancarkan pukulan pertama (not hiasan), diikuti pukulan dengan stik kanan (not utama).

Sedangkan menurut Sungkar (2006: 77) mengatakan bahwa : Flame adalah kombinasi ketukan/pukulan not kecil (small note/grace note) dengan not utama (main note). Kedua ketukan not tersebut tidak dipukul/dimainkan bersamaan, tetapi dipukul/dimainkan hampir bersamaan, yaitu not kecil (small note) dimainkan sebelum not utama (main note).

  1. Teknik Choke simbal adalah suatu cara menghentikan dengingan simbal yang baru dipukul dengan cara memegangi bagian tepi simbal. Menurut Schroedl (2005: 45) mengatakan bahwa : Memegangi simbal crash untuk menghentikan dengingannya (setelah berbunyi) dikenal dengan istilah choking the cymbal (menahan simbal).Trik ini biasa dilakukan jika suatu lagu yang dimainkan oleh band berhenti secara tiba-tiba dan tidak ingin dengingan simbal terus berbunyi. Untuk menahan simbal, pukul simbal crash seperti yang biasa kamu lakukan dengan stik kananmu. Setelah itu, sambil terus memegangi stik dibagian kirimu, gunakan tanganmu untuk menahan simbal dengan jari telunjuk di atas dan jari-jari lain di bawah.
  1. Teknik Closed Hi-hat adalah cara memainkan hi-hat dengan memukulnya pada posisi tertutup rapat untuk menghasilkan suara yang lebih lembut. Agar hi-hat tertutup rapat gunakan kaki kiri untuk menginjak pedal hi-hat. Bone (2001: 7) mengatakan bahwa : “Untuk memainkan close hi-hat, tekan telapak kaki kiri pada pedal hi-hat tanpa mengangkat tumit”.

  1. Teknik Sloshy-hat merupakan cara memainkan hi-hat dengan memukulnya pada  posisi setengah terbuka untuk menghasilkan suara berdesis keras dan lebih tajam. Agar posisinya   setengah terbuka,  kaki kiri pada pedal hi-hat agak diangkat sedikit. Schroedl (2005: 20) mengatakan bahwa : “Untuk mendapatkan suara ‘sloshy’ dari hi-hat terbuka, kurangi sedikit tekanan kakimu pada pedal”.

 

  1. Teknik open Hi-hat adalah suatu teknik memukul hi-hat, dimana hi-hat dipukul pada posisi hampir terbuka, setelah itu hi-hat langsung ditutup kembali dengan menginjak pedal hi-hat.
  2. Teknik Press-Roll adalah cara memainkan snare drum dengan mengusahakan stik pemukul bergetar pada permukaan head snare, sehingga menghasilkan bunyi yang ramai.
  3. Teknik Single Stroke adalah cara memukul bagian drum set (snar, tom-tom, hi-hat)  dengan menggunakan tangan kanan dan tangan kiri secara bergantian.

TEKNIK BRASS LINE

Mengembangkan cara bermain basic brass dalam sikap maupun dalam bermain (meniup) sebenarnya sederhana, dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah teknik-teknik yang berhubungan dengan hal ini harus selalu diingat dan dilakukan secara benar dan kontinu. Teknik dalam bermain alat tiup atau brass sudah barang tentu menyangkut pernafasan dan posisi bibir serta posisi badan kita.

  • Teknik Pernafasan yang tepat

Banyak teknik pernafasan yang kita ketahui, tapi hanya sedikit yang dapat mengantarkan kita dalam teknik yang benar dalam bermain alat tiup. Namun secara garis besar teknik pernafasan yang ditawarkan menekankan pada esensi-esensi yang tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lainnya. Ada teknik pernafasan yoga, ada juga teknik yang menggunakan pendekatan yang cukup ekstrim penggunaannya, namun ada juga pendekatan yang dengan sederhana hanya menekankan pada mekanisme pernafasan alami pada umumnya. Menurut pepatah, segala sesuatu yang bermanfaat/baik belum tentu berasal dari sesuatu yang baik, oleh karena itu apapun pendekatan teknik pernafasan tersebut, sekali lagi jika itu baik mengapa tidak kita gunakan sebagai pendekatan yang akan kita kembangkan nantinya.

  • Pernafasan/breathing merupakan modal utama yang harus dimiliki oleh pemain brass/alat tiup. 

Tanpa pernafasan yang benar, seseorang tidak akan menjadi pemain brass yang baik. Teknik pernafasan pada peemainan brass tidak jauh beda dengan pernfasan yang kita lakukan sehari-hari, sama-sama dilakukan secara rileks dan natural. Ada dua proses utama dalam pernafasan untuk permainan brass, yaitu inhale (mengambil udara) dan exhale (mengeluarkan udara).

  • Teknik sikap

Sikap yang harus dimiliki oleh seorang pemain brass seperti yang sudah diajarkan harus dibiasakan untuk dilatih supaya menjadi suatu pondasi yang kuat, jika ingin memperoleh hal itu diperlukan latihan yang rutin dan melakukannya dengan benar untuk membiasakannya dan yang paling penting adalah berfikir cerdas untuk memiliki trik-trik yang bisa dijadikan senjata andalan kita untuk bisa memiliki kekuatan pada sikap dari pemain brass ketika sedang memainkan alat, itu hanya kalian sebagai player yang bisa menyimpulkan.

 

Praktek inhale – exhale :

  • Berdiri dengan tegak dan badan rileks
  • Buka rahang bawah, ambil nafas dalam melalui mulut. Kerongkongan terbuka dan jangan tegang (seperti sedang menguap). Isi penuh seluruh tubuh dengan udara (dianjurkan udara yang hangat), pastikan badan tetap rileks dan bahu jangan terangkat naik.
  • Hembuskan udara dengan kecepatan tertentu dan konstan hingga habis. Jangan memaksa, biarkan udara mengalir dengan lancer dan ringan, pastikan tidak ada desis atau bunyi saat menghembuskan udara. Kerongkongan terbuka, otot leher jangan tegang, dan diusahakan pipi jangan mengembung.
  • Ulangi dari poin kedua. Lakukan berkali-kali hingga kedua proses tersebut menjadi proses yang alami dan kontinu. Ingat tetep rileks dan jangan tegang

Ambasir (Embochure) adalah istilah yang digunakan untuk menyebut posisi bibir seorang pemain brass dan bisa juga alat tiup lainnya seperti brasswind atau woodwind pada saat bermain. Embochureberasal dari bahasa perancis yaitu bouche yang berarti bibir. Dalam permainan brass, ambasir bertujuan untuk menggetarkan bibir guna menghasilkan suara dari instrument. Ambasir tidak akan menghasilkan suara jika tidak ada getaran bibir pada mouthpiece yang di-support oleh aliran udara. Ambasir dalam permainan brass berhubungan dengan bentuk bibir untuk bermain dan penempatan mouthpiece pada bibir.

Ada dua penempatan mouthpiece pada bibir :

  • Untuk trumpet, mellophone, dan baritone/trombone/euphonium : 2/3 bagian mouthpiece berada dibibir bagian atas dan 1/3 bagian lagi berada pada bibir bagian bawah.
  • Untuk tuba/contrabrass : sebisa mungkin lebih banyak bagian mouthpiece pada bibir bagian atas.

Praktek dengan mouthpiece :

  • Kepala tegak, dagu rata, badan rileks.
  • Bentuk bibir seperti mengucapkan “EMM”.
  • Tempatkan mouthpiece pada bibir.
  • Buka rahang bawah (bibir bagian tengah tetap pada posisi ambasir), ambil nafas melalui kedua sudut bibir. Lakukan inhale dangan membuka rahang bawah, jangan terlalu menarik sudut bibir kesamping seperti tersenyum.
  • Hembuskan udara tepat ke center mouthpiece, jangan dibuyikan dahulu, lakukan hanya hembuskan saja, konstan dan rileks.
  • Kali ini coba bunyikan mouthpiece. Poin penting dalam proses ini ialah aliran udara konstan, kerongkongan terbuka, otot leher jangan tegang, dan LAGI-LAGI RILEKS.
  • Tidak masalah jika pada saat pertama meniup mouthpiece tidak bunyi atau bunyi yang keluar tidak bagus, ulangi terus hingga mendapat tone yang baik.

PERINTAH-PERINTAH FUNDAMENTAL DAN TELUSURI

Dalam beberapa marching band, drum utama memiliki pilihan untuk memberikan satu set perintah ke seluruh band baik secara vokal, dengan perintah tangan, atau dengan peluit. Perintah-perintah ini berasal dari sejarah militer marching band. Pita yang berbeda mungkin memiliki set prosedur yang berbeda seperti jumlah hitungan yang diperlukan untuk melaksanakan perintah, tetapi hasil keseluruhannya sama.

  • Untuk siap / Berdiri oleh / Istirahat / Bersantai: perintah memberitahu band untuk berdiri dengan kepala sedikit tertunduk, kaki terpisah satu bahu. Band ini sering secara otomatis melakukan ini ketika mereka pertama kali berbaris ke lapangan di awal pertunjukan mereka.
  • Band atten-hut / Set: perintah yang memberi tahu band untuk masuk ke posisi perhatian, postur militer. Band ini biasanya merespon dengan suara keras “Satu!”
  • Mark time march: perintah memberitahu band untuk berbaris di tempat dalam irama untuk menjebak keran, biasanya sebelum mereka berbaris.
  • Maju mars, terkadang Forward Harch: perintah ini memberitahu band untuk mulai berbaris, tepat waktu, dan selangkah. Mereka melangkah di kaki kiri, dan berakhir di kanan.
  • Detail berhenti / Band berhenti: perintah ini memberitahu band untuk berhenti berbaris. Biasanya mereka akan menandai waktu untuk dua ketukan, mengatakan “SATU, DUA” atau “DUT, DUT” pada ketukan ini, untuk memastikan mereka berakhir dengan kaki kanan.
  • Tenang: ini memberitahu band bahwa mereka mungkin benar-benar santai.
  • Parade Istirahat: perintah yang memberi tahu band untuk melebarkan kaki mereka bahu dan bergabung dengan kedua tangan di depan tubuh mereka atau untuk menyatukan kedua kaki atau dalam formasi V dan menggulirkan siku mereka keluar dan meletakkan kedua tangan di tangan yang bertumpu pada pinggul (bagian tubuh bagian atas biasanya hanya digunakan ketika berbaris tanpa instrumen, kadang-kadang bentuk tubuh bagian bawah pilihan kedua dan bentuk tubuh atas pilihan pertama digunakan).
  • Wajah kiri: perintah untuk memutar band 90 derajat ke kiri sementara pada posisi perhatian.
  • Wajah kanan: perintah untuk memutar band 90 derajat ke kanan sementara pada posisi perhatian.
  • Tentang wajah: perintah untuk memutar pita 180 derajat ke belakang sementara pada posisi perhatian.
  • Tanduk: perintah untuk pemain angin untuk membawa instrumen mereka ke posisi bermain (corong di atau dekat mulut).
  • Tanduk dorong: perintah ini untuk pemain angin menginstruksikan band untuk membawa tanduk mereka ke posisi dorong di mana instrumen mereka tegak lurus ke tanah dan corong mereka sejajar dengan mata mereka.
  • Tanduk membawa: perintah ini untuk pemain angin menginstruksikan band untuk meletakkan instrumen mereka di bawah lengan kanan mereka.
  • Diberhentikan: perintah ini umumnya melepaskan band baik untuk hari itu atau untuk bagian lain dari latihan.
  • Ke sisi kiri: perintah ini mengubah band 90 derajat secara sinistral saat menandai waktu. Itu tidak akan dieksekusi sampai sutradara / drum besar meneriakkan suku kata “hut”.
  • Ke sisi kanan: perintah ini mengubah band 90 derajat secara dextrally sambil menandai waktu. Itu tidak akan dieksekusi sampai sutradara / drum besar meneriakkan suku kata “hut”.
  • Ke belakang: perintah ini mengubah band 180 derajat saat menandai waktu. Itu tidak akan dieksekusi sampai sutradara / drum besar meneriakkan suku kata “hut”.

  • Dress center / kanan / kiri dress: perintah ini memiliki band yang membawa kedua tangan mereka pada tingkat mata dan untuk memutar kepala mereka ke arah tengah, kanan, atau kiri blok (jika seseorang berada di tengah, seseorang hanya menempatkan kepala seseorang turun). Saat berdandan, band dapat menyesuaikan blok untuk memiliki jarak yang lebih baik. Tidak ada perintah selain Siap depan (terkadang Mata depan) dapat dieksekusi saat Dressing sedang beraksi.
  • Siap depan / depan Mata: perintah ini membuat pusat gaun keluar band untuk perhatian.
  • Tutup: perintah ini memberi tahu band untuk membuat file dan memastikannya lurus.

Selain dari pertunjukan lapangan dan parade, kompetisi di antara sekolah menengah juga dapat melakukan pawai (juga konsentrasi blok atau drill down). Acara ini melibatkan semua peserta di lapangan mengikuti perintah seorang sersan pelatih. Jika seorang peserta membuat kesalahan, baik dengan eksekusi atau salah waktu, maka peserta jatuh keluar lapangan. Pemenang dinobatkan jika hanya ada satu peserta yang tersisa di lapangan.

“PENUNDAAN” DALAM MARCHING BAND

Setiap musisi dalam marching band menciptakan gelombang suara.  Ombak dari masing-masing musisi bepergian dengan kecepatan suara, mencapai musisi lain, konduktor lapangan dan pendengar pada waktu yang sedikit berbeda. Jika jarak antara musisi cukup besar, pendengar bisa merasakan gelombang berada di luar fase. Biasanya, dalam hal ini, pendengar melihat bahwa satu bagian dari band memainkan bagian mereka sedikit setelah bagian lain. Efek penundaan ini secara informal disebut sebagai air mata atau pentahapan ensembel (tidak harus bingung dengan teknik komposisi musik dengan nama yang sama). Pertimbangkan juga bahwa pemirsa merasakan pergerakan para demonstran sebagai gelombang cahaya. Karena cahaya bergerak lebih cepat daripada suara, pemirsa dapat melihat bahwa gerakan itu tidak sesuai dengan suaranya. Gelombang suara juga dapat memantulkan bagian-bagian stadion atau bangunan di dekatnya.

Sebagai contoh, jika dua musisi, yang berdiri di sideline depan lapangan sepak bola dan satu di sisi belakang, mulai bermain tepat ketika mereka melihat ketukan tongkat atau tangan konduktor, suara yang dihasilkan oleh musisi di bagian depan sampingan mencapai pendengar di tribun terlihat sebelum suara dimainkan oleh musisi belakang, dan para musisi terlihat bergerak sebelum suara mencapai tribun. Air mata ensemble dapat terjadi ketika musisi di lapangan mendengarkan pit. Karena cara gelombang suara berjalan, lubang suara menghasilkan lompatan pertama dari bangku belakang dan kemudian terdengar oleh ensemble. Pada saat ansambel mendengarnya, mereka sudah terlambat dalam menentukan waktu. Karena alasan ini, normalnya adalah mengabaikan lubang dan membiarkan mereka mendengarkan ensemble untuk pengaturan waktu.

Penundaan dapat dikurangi dengan beberapa cara, termasuk:

  1. menggunakan formasi kompak
  2. menginstruksikan pemain untuk menonton konduktor lapangan, untuk mendapatkan ide tempo yang seragam
  3. menginstruksikan musisi untuk membuat penyesuaian konstan dan menonton atau mendengarkan sumber tempo untuk membuat suara mereka menjangkau penonton pada saat yang sama dengan musisi lain
  4. menginstruksikan pemain yang terletak di dekat bagian belakang lapangan menonton drum utama, dan semua pemain lain untuk mendengarkan kembali, bermain bersama dengan mereka yang menonton drum utama
  5. menginstruksikan pemain untuk melacak waktu dan ritme mereka sendiri (menginternalisasi tempo)
  6. menginstruksikan perkusi untuk memanggil jumlah, atau melakukan rimshots (terkadang disebut curang) ketika mereka tidak bermain
  7. menginstruksikan pemain untuk mengabaikan penundaan dan menyadari bahwa pendengar mendengar gelombang suara dalam fase. Ini paling sering terjadi ketika band tersebar, tetapi dalam kelompok (misalnya, empat sudut bidang sepak bola dalam 4 grup). Dalam hal ini, suara mencapai pusat stadion dan pusat tribun pada saat yang sama asalkan anggota band tidak saling mengoreksi.